Minggu, 19 Juni 2016

Human Anatomy




HUMAN ANATOMYCUM
( Anatomi Manusia )
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgYURervS-n-e5iCtIYWrn_hmU2uopWVzJk84UKbkEaDem3SG45cn-UJpFGXzFQBFmw4Yb0Or0DWhH81OcVDjSmyKVGs7m_A7eajGmmdb7TqIiS5xsuNU_Vh1IEMtLoRP4kSr0GVjgHx3s/s400/Picture1.jpg



Dasar Utama dalam mempelajari Ilmu Anatomi adalah bahwa anatomi merupakan :
-          Disiplin Ilmu Kesehatan Dasar yang mempelajari  bagian tubuh manusia beserta hubungan antar bagian – bagian tersebut
-          Syarat mutlak yang harus dipelajari jika bekerja di bidang  kesehatan
-          Penuntun utama dari segala  ilmu yang mempelajari  tehnik pengobatan dan pertolongan ,serta penyelamatan jiwa, penanganan bedah rekonstruksi, pemahaman tentang kerja fisiologi  Organ tubuh manusia
Tedapat Dua Tinjauan Dasar Ilmu Anatomi Manusia :
A.      Anatomi Umum :  mempelajari semua struktur  tubuh , topografi serta proyeksi organ serta bagian tubuh  manusia

B.      Anatomi Sistimatik ( Systematic Anatomycum ) : mempelajari struktur  yang menyusun setiap  Regio ( bagian )   tubuh  manusia  mulai Regio capitis, cervical, thorax, extremitas , abdomen, Pelvis, femur,  crus , genital  dll  beserta hubungan antar organ-organ tsb terhadap organ di region sekitarnya.
Anatomi  Umum
( General Anatomycum )

Bidang – Bidang Penting dalam Anatomi
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXLNqiT4ukAJdYP6Cw8o_1WP_zHkYaC1wnvXAEZV__zoYh6YMDjGGc0ZOuXebK0lHUsxN0qijxCjH29oLzk3QN2Gk86pxfpscyhHiiFyU-SoSPmOti8CRzXXNfR40odz3_a0OhwwbNyD4/s320/Picture2.jpg
Dasar Permasalahan dalam memetakan susunan anatomi manusia adalah dimana Struktur tubuh manusia   tidak semuanya  simetri.  Sehingga  disusunlah  suatu tehnik pemetaan 3 Dimensi yang dapat mendeskripsikan koordinat anatomi  tubuh & organ  manusia          
A.         Topografi  : tubuh manusia pada posisi anatomi  dibagi oleh garis imaginer menjadi  beberapa bidang  antara lain : 
1.  Bidang Frontal  ( Coronal ) terbentuk jika  Axis Longitudinal 7  memotong  Axis transversal 6
 2.  Bidang Sagital ( Vertical ) terbentuk jika  Axis longitudinal 1 memotong  Axis transversal 5  disebut  Bidang   Sentral Sagital .  sedangkan jika  Axis longitudinal 7  memotong  Axis transversal 5     disebut  Bidang Medio Sagital
         3.  Bidang Transversal ( Horizontal ) terbentuk jika  Axis transversal 6 memotong  bidang frontal dan
              bidang sagital
B.         Proyeksi :  garis imajiner untuk menentukan posisi  bagian /organ  tubuh terhadap bagian /organ
              tubuh lainya 

   Proyeksi pada Bidang Longitudinal menghasilkan a.l  :
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA7ZSP4eFmTWcY6j5V8FhSBgFqS1_MZ57vc0sH6qoWya3yozk7Sk5wgf0BQjQaeLJeshhOz-NEsqUts7YflZVeKYPlhN5K9WYx4EcTrHjemdcKptbkKmE1uhzZy_XQ-wKTiU_7MVbL36M/s400/Picture5.jpg
         1.  Linea mediana anterior  & posterior  :    garis yang   
               ditarik  tegak lurus dari  tengah corpus vertebralis
         2.  Linea sternalis  :    garis yang ditarik tegak lurus pada 
              caput os clavicula
         3.  Linea parasternalis  :     garis yang ditarik  tegak lurus 
               melalui collum clavicula
         4.  Linea medio clavicularis  :   garis yang ditarik tegak lurus 
               melalui garis  tengah  clavicula
         5.  Linea axillaris anterior posterior :   garis yang   
               ditarik  tegak lurus  melaui acromion
         6.  Linea paravertebralis  :   garis yang ditarik tegak lurus di 
               sebelah luar dari  Linea mediana posterior
         7.  Linea Scapularis  garis yang ditarik tegak lurus melalui 
               angulus Scapula  dan  garis tengah spina scapularis


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxhvP55BGxaH28jqxhP_MM6h6wQGbR9_B3cmLKK-OzhuNEr0sm7Whs1GnW21LkhN29j7f93WzPgWviTxZXp5GYd42Jn7yXAJR73AJNZyaZzwj_yqJ2z6VFz8UZBerTtoDUVYOI_QWUCCA/s320/Picture6.jpg
Deskripsi Arah dalam Anatomi
A. Pada Posisi Anatomi  terdapat beberapa arah proyeksi
  1. Anterior                     terletak didepan
  2. Posterior                   :  terletak di belakangnya
  3. Volar                           :  sisi medial lengan bawah
  4. Palmar                       :  sisi telapak  tangan
  5. Plantar                       :  sisi telapak kaki
  6. Superior                     :  mendekati Kepala ( = Cranial )
  7. Inferior                       :  Mendekati Kaki
  8. Medial                        :  sisi dekat  dari garis imaginer
  9. Lateral                        :  sisi Jauh dari grs imaginer
  10. Proximal                    :  sisi dekat kepada sendi diatasnya
  11. Distal                           :  sisi jauh kepada sendi diatasnya
  12. Superfiscialis            :  sisi yang lebih dekat kearah permukaan tubuh
  13. Profundus                  :  sisi yang lebih jauh/ dalam dari permukaan  tubuh
  14. Externa                        :  Sisi yang lebih jauh dari pusat rongga tubuh/organ
  15. Interna                         :  sisi yang lebih dekat dari rongga tubuh/organ
  
B.      Posisi tidur mendatar akan terdapat bidang-bidang a.l:
1.       Dorsal           :  sebelah punggung
2.       Ventral         :  bagian yang menghadap bumi
3.       Frontal         :  kearah ujung depan ( = rostral )
4.       Caudal         :  kearah ujung belakang
5.       Dextra          :  sisi kanan
6.       Sinistra         :  sisi kiri 

Clinical Neurology 2 ( Reflexes )


Pemeriksaan fisik
1.        Pemeriksaan modalitas modalitas primer dari sensasi somatik (seperti rasa nyeri, raba, posisi, getar dan suhu) diperiksa lebih dulu sebelum memeriksa fungsi sensorik diskriminatif/kortikal.
· Pemeriksaan sensasi nyeri superfisial Lab.
Nyeri merupakan sensasi yang paling baik untuk menentukan batas gangguan sensorik. Alat yang digunakan adalah jarum berujung tajam dan tumpul. Cara pemeriksan:
a. Mata penderita ditutup
b. Pemeriksa terlebih dahulu mencoba jarum pada dirinya sendiri.
c. Tekanan terhadap kulit penderita seminimal mungkin, jangan sampai menimbulkan perlukaan.
d. Rangsangan terhadap terhadap kulit dilakukan dengan ujung runcing dan ujung tumpul secara bergantian. Penderita diminta menyatakan sensasinya sesuai yang dirasakan. Penderita jangan ditanya: apakah anda merasakan ini atau apakah ini runcing?
 e. Bandingkan daerah yang abnormal dengan daerah normal yang kontralateral tetapi sama (misalnya: lengan bawah volar kanan dengan kiri)
f. Penderita juga diminta menyatakan apakah terdapat perbedaan intensitas ketajaman rangsang di derah yang berlainan.
g. Apabila dicurigai daerah yang sensasinya menurun/meninggi maka rangsangan dimulai dari daerah tadi ke arah yang normal.
· Pemeriksaan sensasi nyeri tekan dalam Pemeriksaan dilakukan dengan cara menekan tendo Achilles, fascia antara jari tangan IV dan V atau testis.
· Pemeriksaan sensasi taktil/raba Alat yang dipakai adalah kapas, tissue, bulu, kuas halus, dan lain-lain.
Cara pemeriksaan :
a. Mata penderita ditutup
b. Pemeriksa terlebih dahulu mencoba alat pada dirinya sendiri.
c. Stimulasi harus seringan mungkin, jangan sampai memberikan tekanan terhadap jaringan subkutan. Tekanan dapat ditambah sedikit bila memeriksa telapak tangan atau telapak kaki yang kulitnya lebih tebal.
d. Mulailah dari daerah yang dicurigai abnormal menuju daerah yang normal. Bandingkan daerah yang abnormal dengan daerah normal yang kontralateral tetapi sama (misalnya: lengan bawah volar kanan dengan kiri)
e. Penderita diminta untuk mengatakan “ya” atau “tidak” apabila merasakan adanya rangsang, dan sekaligus juga Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed Modul SkillabA-JILID I 5 diminta untuk menyatakan tempat atau bagian tubuh mana yang dirangsang.
 · Pemeriksaan sensasi getar/vibrasi Alat yang digunakan adalah garpu tala berfrekuensi 128 atau 256 Hz.
Cara pemeriksaan:
a. Garpu tala digetarkan dengan memukulkan pada benda padat/keras.
b. Kemudian pangkal garpu tala diletakkan pada daerah dengan tulang yang menonjol seperti ibu jari kaki, pergelangan tangan, maleolus lateralis/medialis, procc. spinosus vertebrae, siku, bagian lateral clavicula, lutut, tibia, sendi-sendi jari dan lainnya.
c. Bandingkan antara kanan dan kiri.
d. Catat intensitas dan lamanya vibrasi.
e. Untuk penentuan lebih cermat, garpu tala kemudian dipindahkan pada bagian tubuh yang sama pada pemeriksa. Apabila pemeriksa masih merasakan getaran, berarti rasa getar penderita sudah menurun.
· Pemeriksaan sensasi gerak dan posisi
Tujuannya adalah memperoleh kesan penderita terhadap gerakan dan pengenalan terhadap arah gerakan, kekuatan, lebar atau luas gerakan (range of movement) sudut minimal yang penderita sudah mengenali adanya gerakan pasif, dan kemampuan penderita untuk menentukan posisi jari dalam ruangan. Tidak diperlukan alat khusus.
Cara pemeriksaan:
a. Mata penderita ditutup.
 b. Penderita diminta mengangkat kedua lengan di depan penderita menghadap ke atas. Pada kelemahan otot satu sisi atau gangguan proprioseptik maka lengan akan turun dan menuju ke arah dalam. Modifikasi dari tes ini adalah dengan menaik turunkan kedua tangan dan penderita diminta menanyakan tangan mana yang posisinya lebih tinggi. Kedua tes di atas dapat dikombinasi dengan modifikasi tes Romberg.
Caranya: penderita diminta berdiri dengan tumit kanan dan jari-jari kaki kiri berada pada satu garis lurus dan kedua lengan ekstensi ke depan. Kemudian penderita diminta menutup matanya. Bila ada gangguan proprioseptik pada kaki maka penderita akan jatuh pada satu sisi. Untuk tes posisi dapat dilakukan dengan cara berikut:
a. Penderita dapat duduk atau berbaring, mata penderita ditutup.
b. Jari-jari penderita harus benar-benar dalam keadaan relaksasi dan terpisah satu sama lain sehingga tidak bersentuhan.
c. Jari penderita digerakkan secara pasif oleh pemeriksa, dengan sentuhan seringan mungkin sehingga tekanan terhadap jari-jari tersebut dapat dihindari, sementara itu jari yang diperiksa tidak boleh melakukan gerakan aktif seringan apapun.
d. Penderita diminta untuk menyatakan apakah ada perubahan posisi jari atau adakah gerakan pada jarinya.
Cara lain adalah dengan menempatkan jari-jari salah satu penderita pada posisi tertentu dan meminta penderita diminta menirukan posisi tersebut pada jari yang lain.

· Pemeriksaan sensasi suhu Alat yang dipakai adalah tabung berisi air bersuhu 5-10ºC untuk sensasi dingin dan air 40-45ºC untuk sensasi panas.
Cara pemeriksaan:
a. Penderita lebih baik pada posisi berbaring. Mata penderita ditutup.
b. Tabung panas/dingin lebih dahulu dicoba terhadap diri pemeriksa.
c. Tabung ditempelkan pada kulit penderita dan penderita diminta menyatakan apakah terasa dingin atau panas.
2. Pemeriksan sensorik diskriminatif/kortikal Syarat pemeriksaan ini adalah fungsi sensorik primer (raba, posisi) harus baik dan tidak ada gangguan tingkat kesadaran, kadang-kadang ditambah dengan syarat harus mampu memanipulasi objek atau tidak ada kelemahan otot-otot tangan (pada tes barognosis)
Macam-macam gangguan fungsi sensorik kortikal:
a. gangguan two point tactile discrimination Gangguan ini diperiksa dengan dua rangsangan tumpul pada dua titik di anggota gerak secara serempak, bisa memakai jangka atau calibrated two point esthesiometer. Pada anggota gerak atas biasanya diperiksa pada ujung jari. Orang normal bisa membedakan dua rangsangan pada ujung jari bila jarak kedua rangsangan tersebut lebih besar dari 3 mm. Ketajaman menentukan dua rangsangan tersebut sangat bergantung pada bagian tubuh yang diperiksa, yang penting adalah membandingkan kedua sisi tubuh
b. gangguan graphesthesia Pemeriksaan graphesthesia dilakukan dengan cara menulis beberapa angka pada bagian tubuh yang berbeda-beda dari kulit penderita. Pasien diminta mengenal angka yang digoreskan pada bagian tubuh tersebut sementara mata penderita ditutup. Besar tulisan tergantung luas daerah yang diperiksa. Alat yang digunakan adalah pensil atau jarum tumpul. Bandingkan kanan dengan kiri.
c. gangguan stereognosis = astereognosis Diperiksa pada tangan. Pasien menutup mata kemudian diminta mengenal sebuah benda berbentuk yang ditempatkan pada masing-masing tangan dan merasakan dengan jari-jarinya. Ketidakmampuan mengenal benda dengan rabaan disebut sebagai tactile anogsia atau astereognosis. Syarat pemeriksaan, sensasi proprioseptik harus baik.
d. gangguan topografi/topesthesia = topognosia Kemampuan pasien untuk melokalisasi rangsangan raba pada bagian tubuh tertentu. Syarat pemeriksaan, rasa raba harus baik.
e. gangguan barognosis = abarognosis Membedakan berat antara dua benda, sebaiknya diusahakan bentuk dan besar bendanya kurang lebih sama tetapi beratnta berbeda. Syarat pemeriksaan, rasa gerak dan posisi sendi harus baik.
f. sindroma Anton-Babinsky = anosognosia Anosognosia adalah penolakan atau tidak adanya keasadaran terhadap bagian tubuh yang lumpuh atau hemiplegia. Bila berat, pasien akan menolak adanya kelumpuhan tersebut dan percaya bahwa dia dapat menggerakkan bagian-bagian tubuh yang lupuh tersebut.
g. sensory inattention = extinction phenomenon Alat yang digunakan adalah kapas, kepala jarum atau ujung jari. Cara pemeriksaan adalah dengan merangsang secara serentak pada kedua titik di anggota gerak kanan dan kiri yang letaknya setangkup, sementara itu mata ditutup. Mula-mula diraba punggung tangan pasien dan pasien diminta menggenal tempat yang diraba. Kemudian rabalah pada tititk yang satangkup pada sisi tubuh yang berlawanan dan ulangi perintah yang sama. Setelah itu dilakukan perabaan pada kedua tempat tersebut dengan tekanan yang sama secara serentak. Bila ada extinction phenomen maka pasien hanya akan merasakan rangsangan pada sisi tubuh yang sehat saja.
3. Pemeriksaan sensorik khusus
· Tinel’s sign Umumnya digunakan untuk tes saraf medianus pada sindroma Carpal-Tunnel. Tepukan ujung jari pada saraf medianus di tengah-tengah terowongan carpal akan menimbulkan disesthesi (rasa paresthesi dan nyeri yang menjalar mulai dari tempat rangsang ke jari-jari telunjuk, tengah dan manis yang mirip aliran listrik).
 · Perspiration test Prinsip: adanya keringat akan bereaksi dengan amilum/tepung yang diberi yosium, sehingga memberikan warna biru.
Cara pemeriksaan :
a. Bagian depan tubuh (leher ke bawah) disapu dengan tepung yang mengandung yodium.
b. Kemudian tubuh penderita ditutup dengan semacam sungkup supaya cepat berkeringat (bila perlu diberi obat antipiretik).
c. Setelah 1-2 jam sungkup dibuka dan dicatat bagian tubuh yang tetap putih (tidak ada produksi keringat). Tes ini adalah tes yang obyektif dan digunakan pada kasuskasus paraplegia untuk menentukan batas lesinya. Koordinasi adalah penggunaan normal dari faktor-faktor motorik, sensorik dan sinergik dalam melakukan gerakan. Pusat koordinasi adalah cerebellum. Gangguan koordinasi dibagi menjadi:
1. Gangguan equlibratory coordination (mempertahankan keseimbangan, khususnya pada posisi berdiri), diperiksa dengan:
a. Tes Romberg Penderita diminta berdiri dengan kedua tumit saling merapat. Pertama kali dengan mata terbuka kemudian penderita diminta menutup matanya. Pemeriksa menjaga jangan sampai penderita jatuh tanpa menyentuh penderita. Hasil positif didapatkan apabila penderita jatuh pada satu sisi.
b. Tes tandem walking Penderita diminta berjaln pada satu garis lurus di atas lantai, dengan cara menempatkan satu tumit langsung di depan ujung jari kaki yang berlawanan, baik dengan mata terbuka atau tertutup
2. Gangguan non equilibratory coordination (pergerakan yang disengaja dari anggota gerak, terutama gerakan halus), diperiksa dengan:
a. Finger-to-nose test. Bisa dilakukan dengan posisi pasien berbaring, duduk atau berdiri. Dengan posisi abduksi dan ektensi secara komplit, mintalah pada pasien untuk menyentuh ujung hidungnya sendiri dengan ujung jari telunjuknya. Mula-mula dengan gerakan perlahan kemudian dengan gerakan cepat, baik dengan mata terbuka dan tertutup.
b. Nose-finger-nose-test Serupa dengan finger to nose test, tetapi setelah menyentuh hidungnya, pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dan kembali menyentuh ujung hidungnya. Jari pemeriksa dapat diubah-ubah baik dalam jarak maupun bidang gerakan.
c. Finger-to-finger test Penderita diminta mengabduksikan lengan pada bidang horizontal dan diminta untuk menggerakkan kedua ujung jari telunjuknya saling bertemu tepat ditengah-tengah bidang horizontal tersebut.
Pertama dengan gerakan perlahan kemudian dengan gerakan cepat, dengan mata ditutup dan dibuka.
d. Diadokokinesis Penderita diminta untuk menggerakan kedua tangannya bergantian pronasi dan supinasi dengan posisi siku diam, mintalah gerakan tersebut secepat mungkin dengan mata terbuka atau mata tertutup. Diadokokinesis pada lidh dapat dikerjakan dengan meminta penderita menjulurkan dan menarik lidah atau menggerakkan ke sisi kanan dan kiri secepat mungkin. Tapping test merupakan variasi test diadokokinesis, dilakukan dengan menepuk pinggiran meja/paha dengan telapak tangan secara berselingan bagian volar dan dorsal tangan dengan cepat atau dengan tepukan cepat jari-jari tangan ke jempol.
e. Heel-to-knee-to-toe test Penderita diminta untuk menggerakkan tumit kakinya ke lutut kontralateral, kemudian diteruskan dengan mendorong tumit tersebut lurus ke jari-jari kakinya. Variasi dari test ini adalah toe-finger test, yaitu penderita diminta untuk menunjuk jari penderita dengan jari-jari kakinya atau dengan cara membuat lingkaran di udara dengan kakinya.
f. Rebound test Penderita diminta adduksi pada bahu, fleksi pada siku dan supinasi lengan bawah, siku difiksasi/diletakkan pada meja periksa/alas lain, kemudian pemeriksa menarik lengan bawah tersebut dan penderita diminta menahannya, kemudian dengan mendadak pemeriksa melepaskan tarikan tersebut tetapi sebelumnya lengan lain harus menjaga muka dan badan pemeriksa supaya tidak terpukul oleh lengan penderita sendiri bila ada lesi cerebellum.

Clinical Neurology ( Reflexes )

PEMERIKSAAN SISTEM MOTORIK PENGERTIAN

Segala aktifitas susunan saraf pusat yang dilihat, didengar dan direkam dan yang diperiksa adalah berwujud gerak otot. Otot-otot skeletal dan neuronneuron yang menyusun susunan neuromuskular voluntar adalah sistem yang mengurus dan sekaligus melaksanakan gerakan yang dikendalikan oleh kemauan. Sebagian besar manifestasi kelainan saraf bermanifestasi dalam gangguan gerak otot. Manifestasi obyektif inilah yang merupakan bukti nyata adanya suatu kelainan atau penyakit. DASAR TEORI Secara anatomi sistem yang menyusun pergerakan neuromuskular tersebut terdiri atas unsur saraf yang terdiri dari (1) Neuron tingkat atas atau ‘upper motor neuron (UMN)’ (2) Neuron tingkat bawah atau ‘lower motor neuron (LMN)’ dan unsur muskul/otot yang merupakan pelaksana corag gerakan yang terdiri dari (3) Alat penghubung antara saraf dan unsur otot ‘motor end plate’ dan (4) Otot. Gaya saraf yang disalurkan melalui lintasan-lintasan neuronal adalah potensial aksi, yang sejak dulu dijuluki impuls dan tidak lain berarti pesan. Dan impuls yang disampaikan tersebut menghasilkan gerak otot yang kita sebut impuls motorik. Semua neuron yang menyalurkan impuls motorik ke LMN tergolong ke dalam kelompok UMN. Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik, kelompok UMN dibagi ke dalam susunan saraf pyramidal dan susunan saraf ekstrapyramidal. Sindrom upper motor neuron dijumpai jika terdapat kerusakan pada sistem saraf pyramidal dan memiliki gejala berupa lumpuh, hipertoni, hiperrefleks, dan klonus serta dapat ditemukan adanya refleks patologis. Sementara sindrom lower motor neuron didapatkan jika terdapat kerusakan pada neuron motorik, neuraksis neuron motorik (misalnya saraf spinal, pleksus, saraf perifer, myoneural junction dan otot. Gejalanya berupa lumpuh, atoni, atrofi dan arefleksia. Kelumpuhan bukanlah merupakan suatu gejala yang harus ada pada tiap gangguan gerak. Pada gangguan gerak oleh kelainan di sistem ekstrapiramidal dan serebellar, kita tidak mendapatkan kelumpuhan. Pada gangguan sistem ekstrapiramidal didapatkan gangguan pada tonus otot, gerakan otot abnormal yang tidak dapat dikendalikan, gangguan pada kelancaran otot volunteer dan gangguan gerak otot asosiatif. Gangguan pada serebelum mengakibatkan gangguan gerak berupa gangguan sikap dan tonus. Selain itu juga terjadi ataksia, dismetria, dan tremor intensi. Tiga fungsi penting dari serebelum ialah 6 keseimbangan, pengatur tonus otot, dan pengelola serta pengkoordinasi gerakan volunteer.
DASAR TEORI Refleks neurologik bergantung pada suatu lengkungan (lengkung refleks) yang terdiri atas jalur aferen yang dicetus oleh reseptor dan sistem eferen yang mengaktifasi organ efektor, serta hubungan antara kedua komponen ini. Bila lengkung ini rusak maka refleks akan hilang. Selain lengkungan tadi didapatkan pula hubungan dengan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang tugasnya memodifikasi refleks tersebut. Bila hubungan dengan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang tugasnya memodifikasi refleks tersebut. Bila hubungan dengan pusat yang lebih tinggi ini terputus, misalnya karena kerusakan pada sistem piramidal, hal ini akan mengakibatkan refleks meninggi. Bila dibandingkan dengan pemeriksaan-pemeriksaan lainnya, misalnya pemeriksaan sensibilitas, maka pemeriksaan refleks kurang bergantung kepada kooperasi pasien. Ia dapat dilakukan pada orang yang kesadarannya menurun, bayi, anak, orang yang rendah inteligensinya dan orang yang gelisah. Dalam sehari-hari kita biasanya memeriksa 2 macam refleks fisiologis yaitu refleks dalam dan releks superfisial. Refleks dalam (refleks regang otot) Refleks dalam timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan, dan sebagai jawabannya maka otot berkontraksi. Refleks dalam juga dinamai refleks regang otot (muscle stretch reflex). Nama lain bagi refleks dalam ini ialah refleks tendon, refleks periosteal, refleks miotatik dan refleks fisiologis. Refleks superfisialis Refleks ini timbul karena terangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan berkontraksinya otot yang ada di bawahnya atau di sekitarnya. Jadi bukan karena teregangnya otot seperti pada refleks dalam. Salah satu contohnya adalah refleks dinding perut superfisialis (refleks abdominal). Tingkat jawaban refleks Jawaban refleks dapat dibagi atas beberapa tingkat yaitu :
- (negatif) : tidak ada refleks sama sekali
- ± : kurang jawaban, jawaban lemah 10
- + : jawaban normal
- ++ : jawaban berlebih, refleks meningkat
Refleks adalah setiap respons yang terjadi secara otomatis tanpa upaya sadar. Terdapat dua jenis refleks : (1) refleks sederhana, atau dasar, yaitu respons inheren,tanpa dipelajari, misalnya menarik tangan dari benda panas yang membakar; dan (2) refleks didapat atau terkondisi, yang terjadi karena latihan dan belajar, misalnya seorang pemain piano yang menekan tuts tertentu setelah melihat sebuah lambang nada di buku lagunya. Musisi tersebut membaca musik dan memainkannya secara otomatis, namun hanya setelah latihan yang cukup intens.
Lengkung Refleks
Jalur-jalur saraf yang terlibat dalam melaksanakan aktivitas refleks dikenal sebagai lengkung refleks ( arkus refleks ), yang biasanya mencakup lima komponen dasar:
1.        Reseptor
2.        Jalur aferen
3.        Pusat integrasi
4.        Jalur eferen
5.        Efektor
Reseptor berespons terhadap rangsangan, yaitu perubahan fisik atau kimiawi dalam lingkungan reseptor yang dapat dideteksi. Sebagai respons terhadap rangsangan tersebut, reseptor menghasilkan potensial aksi yang dipancarkan oleh jalur aferen ke pusat integrasi untuk diolah. Pusat integrasi biasanya adalah di SSP. Medula spinalis dan batang otak mengintegrasikan refleks-refleks dasar, sementara pusat-pusat yang lebih tinggi di otak memproses refleks didapat. Pusat integrasi memproses semua informasi yang tersedia baginya dari reseptor ini serta dari semua masukan lain, kemudian “mengambil keputusan” mengenai respons yang sesuai. Instruksi dari pusat integrasi ini disalurkan melalui jalur eferen ke efektor-otot atau kelenjar-kelenjar yang melaknsanakan respons yang diinginkan. Tidak seperti perilaku sadar, di mana terdapat sejumlah kemungkinan respons, respons refleks dapat diprediksi, karena jalur antara reseptor dan efektor selalu sama.


Refleks Lucut
Refleks spinal dasar adalah refleks yang diintegrasikan oleh medula spinalis; yaitu, semua komponen yang diperlukan untuk menghubungkan masukan aferen ke respon eferen yang terdapat di dalam medula spinalis. Refleks lucut dapat digunakan untuk menggambarkan suatu refleks spinal dasar. Ketika seseorang menyuruh kompor panas ( atau menerima rangsangan nyeri lainnya ) maka refleks lucut terpicu untuk menarik tangan menjauhi kompor ( menarik diri dari rangsangan nyeri ). Kulit memiliki berbagai reseptor untuk rasa hangat, dingin, sentuhan ringan, tekanan, dan nyeri. Meskipun semua informasi dikirim ke SSP melalui potensial aksi, namun SSP dapat membedakan antara berbagai rangsangan karena perbedaan reseptor dan, dengan demikian, perbedaan jalur aferen yang diaktifkan oleh rangsangan yang berbeda. Jika suatu reseptor dirangsang cukup kuat sehingga reseptor tersebut mencapai ambang, maka terbentuk potensial aksi di neuron sensorik aferen. Semakin kuat rangsangan, semakin tinggi frekuensi potensial aksi yang dihasilakn dan dikirim ke SSP. Setelah masuk ke medula spinalis, neuron eferen menyebar untuk bersinaps dengan berbagai antarneuron berikut:
1.        Neuron aferen yang tereksitasi merangsang antarneuron eksitatorik yang pada gilirannya merangsang neuron motorik eferen yang menyarafi biseps, otot di lengan yang menyebabkan fleksi (menekuk) sendi siku. Dengan berkontraksi, biseps menarik tangan menjauhi kompor panas.
2.        Neuron aferen juga merangsang antarneuron inhibitorik yang pada gilirannya menghambat neuron eferen yang menyarafi trisep untuk mencegahnya berkontraksi. Trisep adalah otot dilengan yang menyebabkan ekstensi (meluruskan) sendi siku. Ketika biseps berkontraksi untuk menekuk siku, makan akan kontraproduktif bag triseps untuk berkontraksi. Karena itu, inhibisi otot-otot yang mengantagonis (melawan) respons yang diinginkan sudah tercakup dalam refleks lucut. Koneksi neuron yang melibatkan stimulasi saraf ke suatu oto dan inhibisi saraf secara bersamaan ke otot antagonisnya ini dikenal sebagai persarafan timbal-balik.
3.        Neuron aferen juga merangsang antarneuron lain yang membawa sinyal naik melalui medula spinalis ke otak melalui jalur asendens. Hanya ketika impuls mencapai daerah sensorikk korteks barulah yang bersangkutan merasakan nyeri,lokasinya, dan jenis rangsangan. Juga, ketika impuls mencapai otak, informasi dapat disimpan sebagai ingatan, dan yang bersangkutan dapat mulai memikirkan situasi yang dihadapinya – bagaimana hal tersebut terjadi, apa yang harus dilakukan mengenai hal tersebut, dan sebagainya. Semua aktivitas di tingkat sadar ini terletak di atas dan setelah refleks dasar.

Seperti ciri semua refleks spinal, otak dapat memodifikasi reflek lucut. Impuls dapat dikirim turun melalui jalur-jalur desendens ke neuron motorik eferen menyarafi otot-otot yang terlibat untuk mengalahkan masukan dari reseptor, mencegah biseps berkontraksi meskipun terdapat rangsangan nyeri. Ketika jari tangan anda sedang ditusuk untuk memperoleh contoh darah, reseptor nyeri dirangsang untuk memulai refleks lucut. Karena anda harus berani dan tidak menarik tangan anda menjauh, anda dapat  secara sadar  mengalahkan refleks ini dnegan mengirim PPI melalui jalur – jalur desendens ke neuron motorik yang menyarafi biseps dan PPE ke yang menyarafi triseps. Aktivitas di neuron – neuron eferen ini bergantung pada jumlah aktivitas semua masukan sinaptiknya. Karena neuron-neuron yang menyarafi biseps kini menerima lebih banyak PPI dari otak ( volunter ) dibandingkan PPE dari jalur aferen nyeri ( refleks ), maka neuron neuron ini terhambat dan tidak mencapai ambang. Karena itu, biseps tidak dirangsang untuk berkontraksi dan menarik tangan. Secara bersamaan , neuron-neuron ke trispes menerima lebih banyak PPE dari otak daripada PPI melalui lengkung refleks, sehingga neuron – neuron tersebut mencapai ambang, menghasilkan potensial aksi, dan karenanya merangsang triseps untuk berkontraksi. Karena itu, lengan tetap dalam keadaan ekstensi meskipun yang bersangkutan mendapat rangsangan nyeri. Dengan cara ini, refleks lucut telah secara sadar dikalahkan.

Refleks Regang
Hanya satu refleks yang lebih sederahana daripada refleks lucut: refleks regang, di mana neuron aferen yang berasal dari reseptor pendeteksi peregangan di suatu otot rangka berakhir langsung di neuron eferen yang menyarafi otot rangka yang sama untuk menyebabkannya berkontraksi dan melawan peregangan. Refleks regang adalah suatu refleks monosinaps ( satu sinaps ), karena satu – satunya sinaps di lengkung refleks adalah sinaps antara neuron aferen dan neuron eferen. Refleks lucut dan smeua refleks lain bersifat polisinaps, karena terdapat antarneuron terselip di jalur refleks dan, karenanya, terdapat sejumlah sinaps yang terlibat.

Aktivitas refleks lain
Kerja refleks spinal tidak terbatas pada respons motorik di sisi tubuh yang mendapat rangsangan. Misalnya seseorang menginjak bara api dan bukan menyentuh benda panas dengan tangannya. Akan terpicu suatu lengkung refleks untuk menarik kaki yang cedera dari rangsangan nyeri, sementara tungkai kontralateral secara bersamaan bersiap untuk mendadak menerima semua beban tubuh sehingga yang bersangkutan tidak kehilangan keseimbangan atau jatuh. Menekuknya lutut ekstremitas yang cedera dilaksanakan secara simultan oleh stimulasi refleks otot-otot yang menekuk lutut dan inhibisi otot-otot yang meluruskan lutut. Respons ini adalah khas refleks lucut. Pada saat yang sama, ekstensi lutut tungkai kontralateral dilaksanakan oleh pengaktifan jalur-jalur yang mmenyebrang ke sisi kontralateral medula spinalis untuk secara refleks merangsang otot-otot ekstensor lutut ini dan menghambat otot-otot fleksornya. Refleks ekstensor menyilang ini memastikan bahwa tungkai kontralateral akan berada dalam posisi siap menahan beban tubuh sewaktu tungkai yang cedera ditarik menjauhi rangsangan.
Selain refleks protektif ( misalnya refleks lucut ) dan refleks postur sederahan ( misalnya refleks ekstensor menyilang ), refleks spinal dasar juga memerantarai pengosongan organ-organ panggul ( misalnya, berkemih, buang air besar, dan pengeluaran semen ). Semua refleks spinal dapat secara sengaja dikalahkan paling tidak secara temporer oleh pusat – pusat yang lebih tinggi di otak.
Tidak semua aktivitas refleks meibatkan lengkung refleks yang jelas, namun prinsip dasar suatu refleks (yaitu, respons otomatis terhadap suatu perubahan yang terdeteksi ) tetap berlaku. Jalur-jalur untuk respons yang tidak disadari yang menyimpang dari lengkung refleks khas terdapat dalam dua cara umum:
1.        Respons yang sedikit banyak diperantarai oleh hormon. Suatu refleks tertentu mungkin diperantarai hanya oleh neuron atau hormon atau mungkin melibatkan jalur yang menggunakan keduanya.
2.        Respons lokal yang tidak melibatkan saraf atau formon. Sebagai contoh, pembuluh darah pada otot yang sedang aktif melebar karena perubahan metabolik lokal sehingga aliran darah meningkat untuk mengimbangi kebutuhan metabolik otot yang aktif tersebut.






PEMERIKSAAN REFLEKS PATOLOGIS PENGERTIAN

Refleks patologik adalah refleks-refleks yang tidak dapat dibangkitkan pada orang-rang yang sehat, kecuali pada bayi dan anak kecil. Kebanyakan merupakan gerakan reflektorik defendif atau postural yang pada orang dewasa yang sehat terkelola dan ditekan oleh akifitas susunan piramidalis. Anak kecil umur antara 4 – 6 tahun masih belum memiliki susunan piramidal yang sudah bermielinisasi penuh, sehingga aktifitas susunan piramidalnya masih belum sepmpirna. Maka dari itu gerakan reflektorik yang dinilai sebagai refleks patologik pada orang dewasa tidak selamanya patologik jika dijumpai pada anakanak kecil, tetapi pada orang dewasa refleks patologikselalu merupakan tanda lesi UMN. Refleks-refleks patologik itu sebagian bersifat refleks dalam dan sebagian lainnya bersifat refleks superfisialis. Reaksi yang diperlihatkan oleh refleks patologik itu sebagian besar adalah sama, akan tetapi mendapatkan julukan yang bermacam-macam karena cara membangkitkannya berbeda-beda. Adapun refleks-refleks patologik yang sering diperiksa di dalam klinik antara lain refleks Hoffmann, refleks Tromner dan ekstensor plantar response atau tanda Babinski.

Refleks primitif adalah gerakan reflektorik yang bangkit secara fisiologik pada bayi dan tidak dijumpai lagi pada anak-anak yang sudah besar. Bilamana pada orang dewasa refleks tersebut masih dapat ditimbulkan, maka fenomena itu menandakan kemunduran fungsi susunan saraf pusat. Adapun refleks-refleks yang menandakan proses regresi tersebut ialah refleks menetek, snout reflex, refleks memegang (grasp refleks), refleks glabella dan refleks palmomental.